Assalamu’alaikum Wr.Wb
Salam rindu untuk Mamak
dan Bapak orang terkasih yang selama ini selalu mendukungku. Apa kabar
Mamak,Bapak,dan Adik disana?. Semoga semuanya sehat selalu. Aku disini juga sehat selalu. Semoga kita
senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Mak, aku rindu sekali.
Sudah hampir satu semester kita tidak bertemu, kita tidak bisa telpon karena dirumah
tidak ada hp. Tapi aku selalu mengingat nasihat Mamak untuk menjaga diri
baik-baik disini. Maafkan aku yang jarang pulang karena sibuk dengan tugas
kuliah Mak. Maaf jika perkuliahanku menghabiskan banyak uang. Aku sangat bangga dengan perjuangan Mamak dan
Bapak yang selalu tabah,sabar dan ikhlas dalam kondisi apapun. Maafkan aku yang
belum bisa membahagiakan Mamak dan Bapak.
Mamak, terimakasih
sudah melahirkanku ke dunia ini, sabar dan ikhlas mendidikku agar menjadi orang
yang berguna. Bapak, terimakasih juga sudah menjadi lelaki terhebat disepanjang
hidupku.Aku percaya bahwa sebuah do’a bisa menjadi pengikat hubungan antar
manusia dan bisa menjadi penentram jiwa. Bagiku, sebuah do’a adalah tanda cinta
dan kasih sayangku pada mereka yang aku sebut setiap kali aku mengucapkan
do’aku. Selalu ada sepasang nama yang aku ucapkan disetiap do’a yang aku
panjatkan. Nama yang tidak pernah membuat bibirku ragu untuk mengucapkannya.
Nama yang telah terpatri didalam lubuk hatiku. Aku selalu meminta pada Allah
agar Mamak dan Bapak selalu menjaga kalian. Memohon agar enantiasa diberikan
kesehatan, karena aku takut jika Mamak dan Bapak sakit. Siapa yang akan merawat?
Aku jauh disini, dirumah hanya ada Adik yang pastinya belum bisa untuk merawat
kalian. Aku ingin kalian panjang umur sampai nanti agar bisa melihatku meraih
kesuksesanku nanti. Aku juga tidak akan pernah lupa agar Allah selalu
melimpahkan kebahagiaan pada keluarga kita. Aku tidak memerlukan apapun dari
Mamak dan Bapak, yang terpenting adalah do’a agar aku bisa menjadi apa yang
diharapkan.
Masih teringat ketika
aku masih menjadi anak tunggal yang manja. Minta apapun yang aku inginkan tanpa
memikirkan hal lain. Mamak dan Bapak selalu memberikan apa yang aku minta. Ketika
aku memasuki sekolah TK, dulu sering bersembunyi karena takut dengan Bu
guru. Dulu aku sering memukul Mamak
menggunakan raket karena tidak segera mengantarkanku sekolah. Aku tidak suka
jika telat sekolah.aku juga sering berkata kasar. Mamak selalu bangun pagi menyiapkan
keperluanku, mulai dari bekal makan,sarapan,seragam dan lainnya. Hingga aku
SMA, hal itu masih Mamak lakukan untukku.
Ketika aku SMP jarang
sekali mendengar nasihat Mamak, hingga pada akhirnya nilaiku hancur dan tak
dapat melanjutkan ke sekolah impianku. Hati Mamak benar-benar hancur. Aku
sering melihat menangis ditengah malam ketika sholat. Di titik itulah aku mulai sadar, bahwa ada orang tua yang harus
aku banggakan.
Pada saat SMA aku
sangat giat belajar. Berangkat pagi pulang sore. Aku sangat benci ketika ada
tetangga yang bilang “Anakmu pulang sore nanti hamil sama Om”. Serendah itukah
aku? Sampai ada yang bilang seperti itu. Aku tidak mempedulikannya justru malah
menambah semangatku. Tiga tahun telah berlalu. Aku selalu mendapat peringkat
satu selama sekolah. Selalu mendapatkan beasiswa, Betapa senangnya aku melihat
senyum Mamak.
Aku ingat ketika wisuda
SMA kemuadian dipanggil kedepan naik ke atas panggung bersama Bapak karena
menjadi wisuda terbaik dan lolos perguruan tinggi tanpa tes dan mendapatkan
beasiswa. Terharu melihat senyum mamak. Itu semua berkat do’a yang mamak dan
bapak panjatkan setiap malam untukku.
Tapi kini, setelah aku memasuki
semester empat, semuanya berubah. Keuangan tidak teratur, apalagi saat Bapak
jatuh dan tidak bisa bekerja seperti sedia kala. Ketika aku pulang, dirumah
selalu saja rebut tentang uang. Aku malu Pak, ketika Bapak bilang “kamu kapan
lulus? Kapan kerja? Bapak sudah tua, segera selesaikan sekolahmu Nduk, ketiga
Adikmu membutuhkanmu” . Semangatku kini berkurang. Aku berusaha untuk kuliah
dan kerja ternyata itu snagat menggangu Mak, Pak. Pekerjaanku tidak sesuai
dengan bidang pendidikanku, aku sulit mengatur waktu untuk belajar. Aku tau,
aku tidak akan pernah bisa membalas jasa Mamak dan Bapak. Tapi aku akan terus
berusaha. Tolong jadilah orang yang selalu mendukungku seperti dulu.
Kehidupanku sangatlah beda. Sekarang aku harus menyiapkan semuanya sendirian.
Menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali masalah yang ahrus aku
selesaikan sendiri. Terimakasih Mamak dan Bapak sudah mau membaca surat ini.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Mungkin nanti ketika aku
pulang. Aku sayang Mamak dan Bapak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Yang
kau sayangi,
Anakmu
yang pertama