Rabu, 18 Maret 2020

contoh surat untuk orang yang terkasih


Assalamu’alaikum Wr.Wb
Salam rindu untuk Mamak dan Bapak orang terkasih yang selama ini selalu mendukungku. Apa kabar Mamak,Bapak,dan Adik disana?. Semoga semuanya sehat selalu. Aku  disini juga sehat selalu. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Mak, aku rindu sekali. Sudah hampir satu semester kita tidak bertemu, kita tidak bisa telpon karena dirumah tidak ada hp. Tapi aku selalu mengingat nasihat Mamak untuk menjaga diri baik-baik disini. Maafkan aku yang jarang pulang karena sibuk dengan tugas kuliah Mak. Maaf jika perkuliahanku menghabiskan banyak uang. Aku  sangat bangga dengan perjuangan Mamak dan Bapak yang selalu tabah,sabar dan ikhlas dalam kondisi apapun. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan Mamak dan Bapak.
Mamak, terimakasih sudah melahirkanku ke dunia ini, sabar dan ikhlas mendidikku agar menjadi orang yang berguna. Bapak, terimakasih juga sudah menjadi lelaki terhebat disepanjang hidupku.Aku percaya bahwa sebuah do’a bisa menjadi pengikat hubungan antar manusia dan bisa menjadi penentram jiwa. Bagiku, sebuah do’a adalah tanda cinta dan kasih sayangku pada mereka yang aku sebut setiap kali aku mengucapkan do’aku. Selalu ada sepasang nama yang aku ucapkan disetiap do’a yang aku panjatkan. Nama yang tidak pernah membuat bibirku ragu untuk mengucapkannya. Nama yang telah terpatri didalam lubuk hatiku. Aku selalu meminta pada Allah agar Mamak dan Bapak selalu menjaga kalian. Memohon agar enantiasa diberikan kesehatan, karena aku takut jika Mamak dan Bapak sakit. Siapa yang akan merawat? Aku jauh disini, dirumah hanya ada Adik yang pastinya belum bisa untuk merawat kalian. Aku ingin kalian panjang umur sampai nanti agar bisa melihatku meraih kesuksesanku nanti. Aku juga tidak akan pernah lupa agar Allah selalu melimpahkan kebahagiaan pada keluarga kita. Aku tidak memerlukan apapun dari Mamak dan Bapak, yang terpenting adalah do’a agar aku bisa menjadi apa yang diharapkan.
Masih teringat ketika aku masih menjadi anak tunggal yang manja. Minta apapun yang aku inginkan tanpa memikirkan hal lain. Mamak dan Bapak selalu memberikan apa yang aku minta. Ketika aku memasuki sekolah TK, dulu sering bersembunyi karena takut dengan Bu guru.  Dulu aku sering memukul Mamak menggunakan raket karena tidak segera mengantarkanku sekolah. Aku tidak suka jika telat sekolah.aku juga sering berkata kasar.  Mamak selalu bangun pagi menyiapkan keperluanku, mulai dari bekal makan,sarapan,seragam dan lainnya. Hingga aku SMA, hal itu masih Mamak lakukan untukku.
Ketika aku SMP jarang sekali mendengar nasihat Mamak, hingga pada akhirnya nilaiku hancur dan tak dapat melanjutkan ke sekolah impianku. Hati Mamak benar-benar hancur. Aku sering melihat menangis ditengah malam ketika sholat. Di titik itulah aku  mulai sadar, bahwa ada orang tua yang harus aku banggakan.
Pada saat SMA aku sangat giat belajar. Berangkat pagi pulang sore. Aku sangat benci ketika ada tetangga yang bilang “Anakmu pulang sore nanti hamil sama Om”. Serendah itukah aku? Sampai ada yang bilang seperti itu. Aku tidak mempedulikannya justru malah menambah semangatku. Tiga tahun telah berlalu. Aku selalu mendapat peringkat satu selama sekolah. Selalu mendapatkan beasiswa, Betapa senangnya aku melihat senyum Mamak. 
Aku ingat ketika wisuda SMA kemuadian dipanggil kedepan naik ke atas panggung bersama Bapak karena menjadi wisuda terbaik dan lolos perguruan tinggi tanpa tes dan mendapatkan beasiswa. Terharu melihat senyum mamak. Itu semua berkat do’a yang mamak dan bapak panjatkan setiap malam untukku.
            Tapi kini, setelah aku memasuki semester empat, semuanya berubah. Keuangan tidak teratur, apalagi saat Bapak jatuh dan tidak bisa bekerja seperti sedia kala. Ketika aku pulang, dirumah selalu saja rebut tentang uang. Aku malu Pak, ketika Bapak bilang “kamu kapan lulus? Kapan kerja? Bapak sudah tua, segera selesaikan sekolahmu Nduk, ketiga Adikmu membutuhkanmu” . Semangatku kini berkurang. Aku berusaha untuk kuliah dan kerja ternyata itu snagat menggangu Mak, Pak. Pekerjaanku tidak sesuai dengan bidang pendidikanku, aku sulit mengatur waktu untuk belajar. Aku tau, aku tidak akan pernah bisa membalas jasa Mamak dan Bapak. Tapi aku akan terus berusaha. Tolong jadilah orang yang selalu mendukungku seperti dulu. Kehidupanku sangatlah beda. Sekarang aku harus menyiapkan semuanya sendirian. Menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali masalah yang ahrus aku selesaikan sendiri. Terimakasih Mamak dan Bapak sudah mau membaca surat ini. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Mungkin nanti ketika aku pulang. Aku sayang Mamak dan Bapak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb    

                                                                                    Yang kau sayangi,

                                                                                    Anakmu yang pertama